Monday, December 10, 2012

Passport

http://www.flickr.com/photos/shanghaidaddy/3013568038/lightbox/
Passport Warga Negara Republik Indonesia
Setiap saat mulai perkuliahan, saya selalu bertanya kepada mahasiswa berapa orang yang sudah memiliki passport.  Tidak mengherankan, ternyata hanya sekitar 5% yang mengangkat tangan.  Ketika ditanya berapa yang sudah pernah naik pesawat, jawabannya melonjak tajam.  Hampir 90% mahasiswa saya sudah pernah melihat awan dari atas.  Ini berarti mayoritas anak-anak kita hanyalah pelancong lokal.

Maka, berbeda dengan kebanyakan dosen yang memberi tugas kertas berupa PR dan paper, di kelas-kelas yang saya asuh saya memulainya dengan memberi tugas mengurus passport.  Setiap mahasiswa harus memiliki "surat ijin memasuki dunia global".  Tanpa passport manusia akan kesepian, cupet, terkurung dalam kesempitan, menjadi pemimpin yang steril.  Dua minggu kemudian, mahasiswa sudah bisa berbangga karena punya passport.

Setelah itu mereka bertanya lagi, untuk apa passport ini?  Saya katakan, pergilah ke luar negeri yang tak berbahasa Melayu.  Tidak boleh ke Malaysia, Singapura, Timor Leste atau Brunei Darussalam.  Pergilah sejauh yang mampu dan bisa dijangkau.

"Uang untuk beli tiketnya bagaimana, Pak?"

Saya katakan saya tidak tahu.  Dalam hidup ini, setahu saya hanya orang bodohlah yang selalu memulai pertanyaan hidup, apalagi memulai misi kehidupan dan tujuannya dari uang.  Dan begitu seorang pemula bertanya uangnya dari mana, maka ia akan terbelenggu oleh constraint.  Dan hampir pasti jawabannya hanyalah tidak ada uang, tidak bisa, dan tidak mungkin.

Pertanyaan seperti itu tak hanya ada di kepala mahasiswa, melainkan juga para dosen steril yang kurang jalan-jalan.  Bagi mereka yang tak pernah melihat dunia, luar negeri terasa jauh, mahal, mewah, menembus batas kewajaran, dan buang-buang uang.  Maka tak heran banyak dosen yang takut sekolah ke luar negeri sehingga memilih kuliah di almamaternya sendiri.  Padahal dunia yang terbuka bisa membukakan sejuta kesempatan untuk maju.  Anda bisa mendapatkan sesuatu yang tidak terbayangkan, pengetahuan, teknologi, kedewasaan, dan wisdom.

Namun beruntunglah, pertanyaan seperti itu tak pernah ada di kepala para pelancong, dan diantaranya adalah mahasiswa yang dikenal sebagai kelompok backpackers.  Mereka adalah pemburu tiket dan penginapan super murah, menggendong ransel butut dan bersandal jepit, yang kalau kehabisan uang bekerja di warung sebagai pencuci piring.  Perilaku melancong mereka sebenarnya tak ada bedanya dengan remaja-remaja Minang, Banjar, atau Bugis, yang merantau ke Pulau Jawa berbekal seadanya.  Ini berarti tak banyak orang yang paham bahwa bepergian ke luar negeri sudah tak semenyeramkan, sejauh, bahkan semewah di masa lalu.

Seorang mahasiswa asal daerah yang saya dorong pergi jauh, sekarang malah rajin bepergian.  Ia bergabung ke dalam kelompok PKI (Pedagang Kaki Lima Internasional) yang tugasnya memetakan pameran-pameran besar yang dikoordinasi pemerintah.  Disana mereka membuka lapak, mengambil resiko, menjajakan aneka barang kerajinan, dan pulangnya mereka jalan-jalan, ikut kursus, dan membawa dolar.  Saat diwisuda, ia menghampiri saya dengan menunjukkan passportnya yang tertera stempel imigrasi dari 35 negara.  Selain kaya teori, matanya tajam mengendus peluang dan rasa percaya tinggi.  Saat teman-temannya yang lulus cum-laude masih mencari kerja, ia sudah menjadi eksekutif di sebuah perusahaan besar di luar negeri.

The Next Convergence

Dalam bukunya yang berjudul The Next Convergence, penerima hadiah Nobel ekonomi Michael Spence mengatakan, dunia tengah memasuki abad ke-3 dari Revolusi Industri.  Dan sejak tahun 1950, rata-rata pendapatan penduduk dunia telah meningkat 20 kali lipat.  Maka kendati penduduk miskin masih banyak, adalah hal yang biasa kalau kita menemukan perempuan miskin-lulusan SD dari sebuah dusun di Madura bolak-balik Surabaya-Hongkong.


Tetapi kita juga biasa menemukan mahasiswa yang hanya sibuk demo dan tak pernah ke luar negeri sekalipun.  Jangankan ke luar negeri, tahu harga tiket pesawat saja tidak, apalagi memiliki passport.  Maka bagi saya, penting bagi para pendidik untuk membawa anak-anak didiknya melihat dunia.  Berbekal lima ratus ribu rupiah, anak-anak SD dari Pontianak dapat diajak menumpang bis melewati perbatasan Entikong memasuki Kuching.  Dalam jarak tempuh 9 jam mereka sudah mendapatkan pelajaran PPKn yang sangat penting, yaitu pupusnya kebangsaan karena kita kurang urus daerah perbatasan.
http://bulletin.penataanruang.net/upload/data_artikel/edisi%203%20h%20mei%202009.jpg
Perbatasan Indonesia-Malaysia

Rumah-rumah kumuh, jalan berlubang, pedagang kecil yang tak diurus Pemda, dan infrastruktur yang buruk ada di bagian sini.  Sedangkan hal sebaliknya ada di sisi seberang.  Anak-anak yang melihat dunia akan terbuka matanya dan memakai nuraninya saat memimpin bangsa di masa depan.  Di Universitas Indonesia, setiap mahasiswa saya diwajibkan memiliki passport dan melihat minimal satu negara.

Dulu saya sendiri yang menjadi gembala sekaligus guide-nya.  Kami menembus Chiangmay dan menyaksikan penduduk miskin di Thailand dan Vietnam bertarung melawan arus globalisasi.  Namun belakangan saya berubah pikiran, kalau diantar dosennya, kapan memiliki keberanian dan inisiatif?  Maka perjalanan penuh pertanyaan pun mereka jalani.  Saat anak-anak Indonesia ketakutan tak bisa berbahasa Inggris, anak-anak Korea dan Jepang yang huruf tulisannya jauh lebih rumit dan pronounciation-nya sulit dimengerti menjelajahi dunia tanpa rasa takut.  Uniknya, anak-anak didik saya yang sudah punya passport itu 99% akhirnya dapat pergi ke luar negeri.  Sekali lagi, jangan tanya dari mana uangnya.  Mereka memutar otak untuk mendapatkan tiket, menabung, mencari losmen-losmen murah, menghubungi sponsor, dan mengedarkan kotak sumbangan.  Tentu saja, kalau kurang sedikit ya ditomboki dosennya sendiri.

Namun harap dimaklumi, anak-anak didik saya yang wajahnya ndeso sekalipun kini di passportnya tertera 1-2 cap imigrasi luar negeri.  Apakah mereka anak-anak orang kaya yang orang tuanya mampu membelikan mereka tiket?  Tentu tidak.  Di UI, sebagian mahasiswa kami adalah anak petani dan nelayan.  Tetapi mereka tak mau kalah dengan TKW yang meski tak sepandai mereka, kini sudah pandai berbahasa asing.

Anak-anak yang ditugaskan ke luar negeri secara mandiri ternyata memiliki daya inovasi dan inisiatif yang tumbuh.  Rasa percaya diri mereka bangkit.  Sekembalinya dari luar negeri, mereka membawa segudang pengalaman, cerita, gambar, dan foto yang ternyata sangat membentuk visi mereka.

Saya pikir ada baiknya para guru mulai membiasakan anak didiknya memiliki passport.  Passport adalah tiket untuk melihat dunia, dan berawal dari passport pulalah seorang santri dari Jawa Timur menjadi pengusaha di luar negeri.  Di Italy saya bertemu Dewi Francesca, perempuan asal Bali yang memiliki kafe yang indah di Rocca di Papa.  Dan karena passport itu pulalah, Yohannes Surya mendapat beasiswa di Amerika Serikat.  Ayo, jangan kalah dengan Gayus Tambunan atau Nazaruddin yang baru punya passport dari uang negara.

Tulisan Rhenald Kasali, Guru Besar Universitas Indonesia

(dikutip dari Jawa Pos edisi 8 Agustus 2011)

Friday, July 20, 2012

Marhaban yaa Ramadhan, Ramadhan di Korea Selatan


Marhaban yaa Ramadhan...

Bahagia sekali rasanya menyambut datangnya Ramadhan, bulan dimana segalanya dispesialkan oleh Allah SWT.  Bulan Ramadhan merupakan bulan tarbiyyah, saatnya untuk belajar menjadi muslim yang bermanfaat, penuh semangat dalam mengerjakan kebaikan dan beribadah, dan saatnya untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT.  Ciri muslim yang sukses dalam menjalani bulan Ramadhannya adalah amal perbuatan selama bulan Ramadhan bisa diaplikasikan untuk 11 bulan ke depan.  Jadi kurang tepat bila kita menjadikan momentum Ramadhan sebagai bulan full beribadah dan menjalani aktivitas seperti bulan-bulan sebelumnya di 11 bulan berikutnya.

Banyak sekali kebahagiaan yang dapat dirasakan muslim Indonesia selama bulan Ramadhan: beribadah lebih giat dan khusyu', berkumpul bersama keluarga, mengerjakan shalat qiyamullail di masjid, ber'itikaf, menyediakan ta'jil bagi yang berbuka, dll.  Sedih sekali rasanya pada hari pertama Ramadhan tahun ini saya tidak dapat merasakan kesempatan yang biasanya secara cuma-cuma saya dapatkan di tahun-tahun sebelumnya.

Seoul Central Masjid  (http://www.islamawareness.net)
Di Korea Selatan tempat saya tinggal saat ini, gema Ramadhan benar-benar tidak ada.  Tidak ada disebutkan kata "Ramadhan" dimanapun.  Bahkan di Geoje, pulau ke-2 terbesar di Korea Selatan, tidak ada masjid.  Di Korea Selatan sendiri hanya ada 17 masjid yang tersebar di berbagai kota.  Memang wajar, mengingat umat muslim di Korea Selatan hanya 100.000 orang, setara 0,2% dari populasinya, dan sekitar 70-80% adalah orang asing yang tinggal/bekerja disana (sumber: The Korea Times,29 Mei 2005).  Bisa dibayangkan bagaimana 'gersang'-nya hati umat muslim di Korea.  Betapa dirindukannya keramaian khas bulan Ramadhan.  Bahkan kemarin, saya kalang-kabut mencari informasi tentang awal Ramadhan di Korea Selatan dan tidak ada satupun situs internet yang menyajikan info tersebut, sungguh menyedihkan.  Akhirnya saya memutuskan untuk mengikuti jadwal dari prayer timetable yang didapat dari Seoul Central Masjid.

Masjid di Korea Selatan sendiri tidak sepi selama Ramadhan.  Di Seoul Central Masjid, mereka menyediakan makanan iftar untuk sekitar 250 orang di hari biasa dan sekitar 500-600 orang saat weekend.

Monday, July 16, 2012

Belajar dari Korea: Insan Media Korea

Tadi malam kami kedatangan tamu spesial, salah satunya seorang kawan asal Busan, Shon. Dia bercerita banyak hal, dengan ekspresif. Dia bertanya padaku, "do you like Korea? Korea is really different from drama, right?" Lalu dia melanjutkan, "When you saw men in drama, they're all handsome, cool, and friendly to girl, but that's completely different.  Korean men aren't that friendly to girls." dia pun menertawakan analisisnya sendiri.

Bila diamati dengan cermat, perkataan dia memang benar meskipun tidak sepenuhnya benar karena banyak juga pria menarik yang kutemukan selama di Korea. :) Yang aku garis bawahi adalah, dimanapun media itu akan menampilkan yang terbaik dari sumber daya yang dimilikinya.  Apalagi menurut kesimpulanku, media hiburan Korea Selatan itu memiliki misi khusus yaitu menyebarluaskan identitas Korea melalui media hiburan.  Hasilnya luar biasa, Korea menjadi digilai para remaja Indonesia.  Kenapa?  Karena unsur hiburan itu lebih mudah diterima dan diserap oleh kita, terutama para remaja.

Jadi sebagai pelajaran, tidak ada salahnya para insan kreatif meniru kreativitas orang Korea Selatan.  Mereka saja bisa sangat sukses, kenapa yang lain tidak?

Friday, July 13, 2012

Pendulum Emas Berayun

Bismillaahirrahmaanirrahiim..

Setelah tertunda bertahun-tahun, akhirnya niat untuk membuat blog terwujud juga dan bahkan bisa menorehkan post pertama.  Banyak rasa, cita, dan cerita yang ingin dituangkan sebagai kenangan dan penguat tekad terhadap langkah yang akan dipilih selanjutnya.

Dengan post ini, pendulum emas diayunkan...